Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Add Innovel to the desktop to enjoy best novels.
Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Your cookies settings
Strictly cookie settingsAlways Active
JARAK YANG TAK PERNAH SAMPAI
READING AGE 18+
Ryan
Romance
ABSTRACT
JARAK YANG TAK PERNAH SAMPAI
#1 Awal yang Sederhana : Bara masih ingat hujan sore itu, dua tahun lalu, ketika ia dan Sekar berteduh di halte depan kampusnya,dua orang asing yang sama-sama basah dan lupa membawa payung. Sekar membuka obrolan lebih dulu, menawarkan setengah jaketnya. Dari situ semuanya bermula.Dua tahun kemudian, Sekar pindah ke Surabaya untuk bekerja di sebuah biro iklan, sementara Bara bertahan di Jakarta sebagai staf logistik sambil sesekali menerima proyek desain lepas. Jaraknya tujuh ratus kilometer tidak seberapa di peta, tapi terasa seperti lautan bagi hubungan yang baru berumur dua tahun."Kita bisa, kok," kata Sekar malam sebelum keberangkatannya, di teras kos Bara. "Video call tiap malam. Aku janji nggak akan berubah."Bara mengangguk, meski ada ganjalan yang tak bisa ia jelaskan. "Aku juga janji," jawabnya. "Aku akan kerja lebih keras. Biar bisa sering-sering ke sana."Malam itu mereka berpelukan lama, seolah pelukan itu bisa disimpan untuk hari-hari sepi yang akan datang.#2 Dua Tahun Sebelumnya : Bara anak jurusan desain, Sekar anak komunikasi yang sibuk berorganisasi. Mereka sering bertemu di kantin kampus, awalnya kebetulan, lalu jadi kesengajaan yang tak pernah diucapkan. Butuh delapan bulan sejak pertemuan di halte sampai akhirnya Bara memberanikan diri menyatakan perasaannya, di atap gedung fakultas sambil menatap lampu kota. Sekar menerimanya dengan senyum yang menurut Bara paling indah yang pernah ia lihat.Dua tahun mereka lalui bersama sebelum Sekar lulus lebih dulu dan mendapat tawaran kerja di Surabaya,kesempatan besar yang tak mungkin ditolak. Bara, yang masih menunggu kelulusannya sendiri, mendukung penuh, meyakinkan diri bahwa cinta yang sudah teruji dua tahun pasti mampu bertahan meski dipisahkan jarak.Ia tidak tahu, keyakinan itu akan diuji jauh lebih berat dari yang pernah ia bayangkan. #3 Rutinitas BaruTiga bulan pertama : berjalan seperti dijanjikan. Setiap pukul sembilan malam, ponsel Bara bergetar dengan panggilan video dari Sekar. Bara mulai menabung sejak bulan pertamanya”membuka rekening "dana ketemu Sekar", mengerjakan proyek desain sampai jam dua pagi demi tiket berikutnya.Danu, rekan kerjanya, sering menegur. "Lo kerja kayak orang dikejar setoran, Bar. Istirahat, napa.""Ini buat Sekar," jawab Bara sambil tersenyum.Bulan keempat, Bara berhasil mengumpulkan cukup uang untuk membeli tiket perjalanan,naik kereta sebelas jam demi bertemu Sekar hanya satu setengah hari. Sekar menjemputnya di stasiun, memeluknya erat. "Aku kangen banget," bisiknya. Semua lelah itu terasa sangat sepadan. #4 : Kunjungan yang MembekasKunjungan pertama itu Bara simpan seperti harta karun, naik angkot bersama, makan rawon di kaki lima, duduk berdua di Taman Bungkul sampai matahari terbenam."Aku suka banget momen kayak gini," kata Sekar, kepalanya bersandar di bahu Bara. "Ngerasa kita masih kayak dulu, walaupun sekarang jauh."Malam sebelum kepulangan, mereka makan malam sederhana, berbagi satu porsi nasi goreng agar Bara bisa menghemat uang untuk oleh-oleh keluarga Sekarang”meski mereka belum resmi kenalan. Kepulangannya esok diwarnai pelukan panjang di stasiun dan janji-janji yang diulang berkali-kali. Di kereta, Bara menulis di catatan ponselnya: *Hari ini aku makin yakin, jarak nggak akan bisa mengalahkan kita.*Ia tidak tahu, catatan itu akan jadi salah satu hal yang membuatnya tersenyum getir setahun kemudian.#5 Harga dari Sebuah Perjuangan : Tak banyak yang tahu seberapa besar pengorbanan diam-diam Bara. Gajinya sebagai staf logistik pas-pasan. Untuk bisa ke Surabaya beberapa kali setahun, ia mengambil proyek desain tambahan malam harinya logo, poster, edit foto pernikahan sampai begadang subuh sebelum kerja pagi.Ibunya di Bandung sering menelepon, mendengar suara Bara yang lelah. "Kamu jangan kerja kelewat keras, ya," pesannya. Bara tak pernah cerita detail sebenarnya. Ia menolak ajakan nongkrong teman-temannya, memilih menghitung ulang tabungan dan membandingkan harga tiket kereta. Baginya itu bentuk cinta paling nyata.Yang tak pernah terpikir olehnya: apakah perjuangan itu dibalas dengan cara yang sama? #6 Retak yang Tak Terlihat : Panggilan video pukul sembilan mulai bergeser kadang jam sepuluh, jam sebelas, dengan alasan lembur. Kadang Sekar tak menelepon sama sekali, hanya berpesan: *Capek banget, tidur duluan ya sayang.* Besoknya sering tak terjadi.Bara tak pernah menuntut, memilih diam dan terus bekerja. Suatu malam, setelah tiga hari tanpa kabar, ia bertanya pelan, "Semua baik-baik aja?"Sekar tertawa kecil. "Banyak proyek baru. Ada anak baru di tim, namanya Adit. Orangnya asik, jadi kerjaan nggak berasa berat."Nama itu terdengar biasa saja waktu itu. Bara tak tahu, nama itu akan jadi yang paling ia takuti dalam bulan-bulan berikutnya.
#7 Adit mulai muncul di cerita-cerita : Sekar dengan frekuensi yang perlahan bertambah ”Adit yang traktir makan siang, Adit yang bikin suasana kantor lebih hidup.Bara mendengarkan tanpa banyak komentar, memilih percaya itu cuma cerita....