Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Add Innovel to the desktop to enjoy best novels.
Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Your cookies settings
Strictly cookie settingsAlways Active
Yang Tersisa dari Adara
READING AGE 16+
Aksara Sangkara
Romance
ABSTRACT
Adara tumbuh di sebuah rumah yang perlahan kehilangan segalanya.
Mula-mula, rumah itu kehilangan kedamaian.
Kemudian kehilangan kepercayaan.
Lalu satu per satu, harta, tanah, dan segala sesuatu yang pernah membuat keluarganya merasa aman ikut menghilang.
Ayahnya pulang membawa amarah. Ketika keluarganya jatuh miskin, ia meninggalkan lebih banyak luka daripada yang sanggup mereka hitung. Semua orang di rumah itu belajar membencinya.
Kecuali Adara.
Entah karena hatinya terlalu luas, atau karena sejak kecil ia memang terbiasa memahami hal-hal yang tidak dipahami orang lain, Adara memilih untuk tetap menganggap ayahnya sebagai ayah.
Sejak saat itu, Adara mulai belajar menjadi kuat.
Ia belajar agar bisa menjadi juara.
Ia bekerja agar bisa membantu.
Ia merantau agar bisa mengubah nasib.
Ia menunda mimpinya agar adik-adiknya bisa memiliki mimpi.
Ketika keluarganya membutuhkan uang, mereka datang kepada Adara.
Ketika mereka membutuhkan seseorang untuk mendengarkan, mereka datang kepada Adara.
Ketika mereka membutuhkan seseorang untuk mengalah, lagi-lagi Adara.
Dan Adara tidak pernah benar-benar belajar mengatakan tidak.
Ia hanya terus berjalan.
Meski tubuhnya mulai lelah.
Meski hatinya semakin sepi.
Meski ada begitu banyak malam ketika ia ingin menyerah, tetapi tidak tahu kepada siapa harus berkata bahwa ia juga membutuhkan seseorang.
Sebab semua orang mengenal Adara sebagai perempuan yang kuat.
Tidak ada yang tahu bahwa orang kuat pun bisa kehabisan tenaga.
Tidak ada yang tahu bahwa perempuan yang selalu menguatkan orang lain juga ingin sekali dipeluk.
Adara berhasil melakukan banyak hal dalam hidupnya.
Ia membuat keluarganya kembali belajar berdoa.
Ia membantu orang-orang yang kehilangan harapan.
Ia menjadi tempat pulang bagi mereka yang merasa sendirian.
Namun, di tengah semua itu, Adara melakukan satu kesalahan yang tidak pernah ia sadari.
Ia terlalu sibuk menyelamatkan semua orang, sampai lupa bahwa dirinya sendiri juga sedang tenggelam.
Dan ketika akhirnya Adara benar-benar pergi, orang-orang baru mulai mencari-cari dirinya.
Mereka mencari suaranya.
Mereka mencari tawanya.
Mereka mencari pesan-pesan yang dulu selalu datang ketika mereka sedang kesulitan.
Mereka mencari seseorang yang selama ini mereka kira akan selalu ada.
Namun, beberapa orang baru menyadari betapa berartinya sebuah kehadiran setelah yang tersisa hanyalah kenangan.
Pada akhirnya, Adara memang meninggalkan banyak hal.
Ia meninggalkan doa.
Ia meninggalkan cinta.
Ia meninggalkan orang-orang yang pernah ditolongnya.
Namun, dari seorang perempuan yang sepanjang hidupnya berusaha menjadi rumah bagi semua orang, yang paling menyedihkan adalah satu hal:
Tidak ada yang pernah benar-benar bertanya apakah Adara juga punya tempat untuk pulang.
**Yang Tersisa dari Adara**
Bukanlah seluruh kisah tentang bagaimana seorang perempuan berhasil bertahan.
Melainkan tentang seseorang yang terlalu lama dianggap kuat—
sampai semua orang lupa bahwa ia juga bisa hancur.