Dreame - seorang CEO menemukan cinta sejati di RS
close button

Add Innovel to the desktop to enjoy best novels.

seorang CEO menemukan cinta sejati di RS
book-rating-imgREADING AGE 18+
melsmtr
Romance
ABSTRACT
BAB 1: RAPAT DARURAT DI IGDJakarta, 03:17 WIB. IGD RS Harapan Bangsa.Sirene ambulan meraung-raung seperti alarm dunia. Darah, keringat, dan bau alkohol bercampur jadi satu di udara. Di tengah chaos itu, ada satu orang yang geraknya paling tenang.Nadira Ayu Maharani, 24 tahun. Perawat jaga malam. Gaji UMR Jakarta, kos di Petamburan 1,2 juta per bulan, utang pinjaman online 18 juta karena biaya operasi bapaknya setahun lalu. Tapi tangannya nggak pernah gemetar pas pasang infus.“Nad, pasien tabrakan, Code Blue! Saturasi 70!” teriak Dokter Jaga.Nadira lari. Rambut diikat setinggi-tingginya, masker N95 udah lusuh, sepatu crocs rumah sakit udah retak samping. Tapi otaknya jernih.Pasien laki-laki. Usia sekitar 30. Luka di kepala, darah ngalir dari pelipis. Tapi yang bikin Nadira diem sedetik adalah jam tangan pasien: Patek Philippe Grand Complications. Harganya bisa buat beli rumah di kampung Nadira di Kebumen.“Siapin intubasi!” perintah Dokter Jaga.Nadira kerja. Cek nadi, pasang oximeter, lap darah. Pas buka jaket pasien buat pasang EKG, dompet jatoh. KTP kebuka.Arlangga Mahendra Putra. CEO MAHENDRA GROUP. Umur 31 tahun. Alamat: Menteng, Jakarta Pusat.Nadira pernah liat wajah itu. Di billboard Sudirman. Di cover majalah Forbes Indonesia. Di berita: “The Youngest Billionaire in Southeast Asia.”Sekarang? Cuma manusia pucat dengan darah di pelipis.“Tekanan drop, Dok!” Nadira lapor.“Push adrenaline 1 mg!”Nadira ngambil spuit. Tangannya stabil. Padahal di luar, ada 5 bodyguard gede-gede gedor pintu IGD. Ada satu perempuan pakai heels 15 cm teriak: “Itu tunangan saya! Kasih dia VIP room!”Security RS nahan. “Bu, ini IGD! Semua pasien sama!”Nadira nggak peduli. Di depannya cuma ada nyawa. Bukan CEO. Bukan tunangan. Nyawa.30 menit kemudian, garis di monitor akhirnya naik. Sinus rhythm. Napas balik, meski lewat ventilator.Dokter Jaga napas lega. “Dia stabil. Pindahin ke ICU.”Baru selesai, pintu IGD kebuka paksa. Perempuan tadi masuk. Shakira Amanda, socialite, tunangannya Arlangga. Follower IG 2,3 juta. “Kenapa lama banget?! Kalian tau dia siapa?!” Shakira nunjuk ke Nadira. “Kamu! Kamu yang pegang tadi kan? Kalau dia kenapa-napa, kamu saya pecat!”Nadira buka masker. Mukanya lelah, ada bekas garis N95. “Bu, di sini kita nggak nyelamatin KTP. Kita nyelamatin manusia. Dan dia udah stabil.”Shakira mau nyakar, tapi Dokter Jaga nyegah. “Bu, keluar. Ini zona steril.”Nadira balik badan. Lanjut nulis laporan tindakan. Tangannya masih bau darah Arlangga. Tapi hatinya biasa aja. Ini kerjaan. Besok juga dia harus jaga lagi, bayar kos, cicil pinjol.Dia nggak tau, jam 03:17 itu jadi jam yang ngubah hidupnya.07:00 WIB. RUANG ICU. LANTAI 8.Arlangga buka mata. Yang pertama dia liat: infus, monitor, dan langit-langit putih.Yang kedua: flashback. Mobilnya ditabrak truk pas pulang meeting. Rem blong? Atau disabotase? Otaknya CEO langsung mikir risk.Yang ketiga: suara.“Pak, Bapak udah sadar? Saya Nadira, perawat shift pagi. Bisa denger saya?”Arlangga noleh. Perawat muda. Wajah capek, tapi matanya... bersih. Nggak ada takut, nggak ada fake. Beda sama semua orang yang dia temuin di board meeting.“Air...” suara Arlangga serak.Nadira basahin sponge, oles ke bibir Arlangga. “Belum boleh minum banyak, Pak. Bapak baru extubasi 2 jam lalu.”Arlangga natap name tag Nadira. Nadira Ayu Maharani.“Yang nolong saya... semalem... kamu?”Nadira angguk. “Tim IGD, Pak. Bukan saya sendiri.”Arlangga diem. Dia biasa liat orang ngaku-ngaku kerja. Tapi perawat ini malah lempar kredit ke tim.Pintu kebuka. Shakira masuk bawa bucket bunga segede kulkas. Di belakangnya ada 3 bodyguard, 1 pengacara, 2 asisten. “Sayang!” Shakira peluk Arlangga. “Aku khawatir banget! Aku udah reschedule semua meeting kamu!”Arlangga nggak jawab. Matanya malah ke Nadira yang pelan-pelan mundur mau keluar.“Perawat,” Arlangga panggil. Suaranya lemah tapi commanding. Nadira berhenti. “Ya, Pak?”“Terima kasih.”Nadira kaget. CEO jarang bilang terima kasih. Biasanya cuma “good job” ke manager. “Sama-sama, Pak. Itu tugas saya.” Nadira keluar.Shakira ngerem ekspresi. “Sayang ngapain ngomong sama perawat? Aku udah hire private nurse dari Singapura.”Arlangga natap Shakira. Baru sadar. Tunangannya ini dateng full makeup, api nggak nanya “kamu sakit apa?”. Nanya “meeting kamu gimana?”09:00 WIB. RUANG DIREKSI MAHENDRA GROUP.Darren, adik tiri Arlangga, senyum denger kabar. “Kak Arlangga kecelakaan. Critical. Kalau dia mati, saham trigger clause warisan. 51% ke gue.”Di sampingnya, Mama Viera, ibu tiri Arlangga. “Mama udah bilang, rem mobil itu harus dicek. Tapi ya sudahlah. Takdir.”Darren: “Masalahnya dia nggak mati, Ma. Udah sadar di ICU.”Mama Viera buang muka. “Kalau gitu plan B. Shakira itu bodoh. Gampang di-*setir*. Tapi Arlangga harus hilang lebih lama. Biar saham goyang. Kita buyback.”Darren: “Caranya?”Mama Viera senyum. “Kita bikin dia butuh istri. Kontrak. Biar Shakira ngamuk, cancel