Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Add Innovel to the desktop to enjoy best novels.
Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Your cookies settings
Strictly cookie settingsAlways Active
hari yang menyenangkan di sekolah
READING AGE 16+
ibni lisan
Realistic Urban
ABSTRACT
Pagi itu, sinar matahari yang cerah dan hangat mulai menyelinap masuk lewat celah-celah kecil di jendela kamarku. Cahaya keemasan itu jatuh tepat di atas wajahku, membuatku perlahan membuka mata dengan perasaan yang sangat nyaman dan damai. Udara pagi yang sejuk juga ikut masuk, membawa aroma tanah basah dan bunga-bunga yang baru saja mekar di halaman rumah. Aku pun terbangun sepenuhnya, merasakan semangat yang luar biasa memenuhi dadaku, karena hari ini aku yakin sekali bakal menjadi hari yang paling menyenangkan dan penuh kenangan indah di sekolah. Aku langsung bangkit dari tempat tidurku yang empuk dan nyaman itu. Dengan gerakan yang santai namun rapi, aku melipat selimut tebal berwarna biru mudaku, lalu menata bantal-bantal dengan posisi yang tegak dan lurus di kepala tempat tidur. Ibu selalu mengajarkanku bahwa merapikan tempat tidur adalah langkah pertama untuk memulai hari dengan tertib dan baik, dan aku selalu berusaha melakukannya setiap pagi tanpa pernah lupa atau malas. Setelah kamarku terlihat rapi dan bersih, aku pun berjalan keluar menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap-siap. Di kamar mandi, aku menggosok gigi dengan sikat gigi berwarna hijau kesukaanku, lalu mencuci muka dengan air dingin yang segar dan jernih. Rasa dingin air itu membuatku semakin segar dan sadar sepenuhnya dari kantuk semalam. Setelah itu aku mandi dengan sabun wangi yang membuat seluruh tubuhku terasa bersih, halus, dan sangat wangi. Aku suka sekali mandi pagi hari karena rasanya sungguh menyejukkan hati dan pikiran, seolah-olah semua kelelahan dan debu kemarin ikut hilang terbawa air. Selesai mandi dan mengeringkan tubuhku dengan handuk empuk, aku pun berjalan kembali ke kamarku untuk memakai seragam sekolahku. Seragam putih abu-abu itu sudah tergantung rapi di lemari, dan sudah disetrika dengan sangat halus dan licin oleh Ibu kemarin sore. Aku memakainya satu per satu, mulai dari kemeja putih bersih yang bersih tanpa noda sedikit pun, celana abu-abu yang pas di badan, sampai mengenakan dasi sekolah dan topi sekolah yang warnanya cerah. Aku menyisir rambutku dengan rapi ke belakang, memastikan tidak ada helai rambut yang berantakan, supaya saat ke sekolah aku terlihat rapi, sopan, dan enak dilihat oleh semua orang. Setelah penampilanku selesai dan rapi, aku pun berjalan menuju ruang makan yang ada di bagian depan rumah. Di sana, Ibu sudah sibuk di dekat meja makan, menyiapkan sarapan pagi yang selalu lezat dan bergizi untuk kami sekeluarga. Bau masakan yang sedap dan menggugah selera langsung tercium masuk ke hidungku, membuat perutku yang memang sudah mulai lapar itu semakin berbunyi minta diisi. Di atas meja makan yang bersih dan tertata rapi, sudah tersaji sepiring nasi goreng hangat yang masih mengepulkan uap panas, lengkap dengan telur dadar berwarna kuning keemasan yang digoreng tipis-tipis, serta irisan timun dan tomat segar sebagai pelengkap. Di sampingnya juga ada segelas besar teh manis hangat yang aromanya sangat harum dan nikmat. "Selamat pagi, Nak! Sudah siap berangkat sekolah?" sapa Ibu dengan senyum ramah dan penuh kasih sayang sambil meletakkan sendok dan garpu di samping piringku. Aku tersenyum lebar membalas sapaan Ibu, lalu duduk di kursi makan yang ada di hadapan hidangan lezat itu. "Selamat pagi, Bu! Sudah dong, aku sudah siap banget. Wah, nasi gorengnya enak sekali baunya, pasti buatan Ibu paling enak sedunia nih," jawabku dengan antusias sambil memandangi masakan Ibu dengan mata berbinar-binar. Ibu tertawa kecil mendengar pujianku, lalu duduk di sampingku sambil mengelus pelan kepalaku. "Ya sudah, dimakan yang banyak ya biar kuat belajarnya seharian di sekolah. Jangan lupa berdoa dulu sebelum makan ya." Aku pun mengucap syukur dan berdoa dalam hati, lalu mulai menyantap sarapan pagiku dengan sangat lahap. Nasi goreng buatan Ibu memang tidak ada duanya, rasanya pas sekali, gurih, manis, dan bumbunya meresap sampai ke dalam. Aku makan dengan sangat nikmat sambil sesekali mengobrol ringan dengan Ibu mengenai rencana kegiatanku di sekolah hari ini. Aku bercerita kalau hari ini ada jam olahraga, ada pelajaran menggambar, dan juga akan ada istirahat panjang yang bisa kami manfaatkan untuk bermain-main dengan teman-teman sekelas. Ibu mendengarkan dengan saksama, sesekali memberikan nasihat supaya aku tetap belajar yang rajin, berbuat baik kepada semua teman, dan menghormati Bapak serta Ibu Guru di sekolah. Setelah perutku terasa kenyang dan puas, aku pun beranjak dari kursi makan, lalu berpamitan kepada Ibu untuk berangkat ke sekolah. Aku mengambil tas punggungku yang sudah terisi penuh dengan buku-buku pelajaran, alat tulis, dan perlengkapan sekolah lainnya yang sudah kusiapkan dari malam sebelumnya. Tas itu agak berat memang, tapi rasanya bangga bisa membawa ilmu-ilmu yang akan kupelajari hari ini di dalamnya. "Hati-hati di jalan ya, Nak. Jangan ngebut-ngebut naik sepedanya, jaga keselamatan," pesan Ibu sekali lagi sambil mencium keningku dengan lembut. "Siap Bu! Ass