Dreame - Dendam Gadis Bermata Berlian
close button

Add Innovel to the desktop to enjoy best novels.

Dendam Gadis Bermata Berlian
book-rating-imgREADING AGE 16+
Lukman Hamid Yakub
Suspense/Thriller
ABSTRACT
ANAK YANG DILAHIRKAN DARI KUTUKAN Di lereng Gunung Merapi yang subur namun penuh misteri, hiduplah seorang gadis bernama Lestari. Sejak kelahirannya dua puluh tahun silam, ia telah membawa tanda yang tak biasa—sepasang mata berwarna biru berlian yang memantulkan cahaya bintang, sebuah anomali genetik yang langka dan menakutkan bagi masyarakat desa yang masih memegang teguh kepercayaan kuno. Namun, warna matanya bukanlah hal paling aneh tentang dirinya. Sejak usia tujuh tahun, Lestari dikaruniai—atau mungkin dikutuki—dengan indra keenam yang memungkinkannya menerawang masa depan, melihat fragmen-fragmen takdir yang belum terjadi, dan merasakan bahaya yang mengintai di balik sudut waktu. Kemampuan itu pertama kali muncul dalam bentuk mimpi buruk yang terlalu nyata. Ketika ia berusia tujuh tahun, pandangannya tiba-tiba kabur dan ia melihat bayangan samar tentang gempa bumi yang akan melanda desanya tiga hari kemudian. Dengan polosnya, ia berlari kepada ayahnya, menceritakan apa yang dilihatnya dengan suara bergetar. Namun, sang ayah hanya tertawa, menganggap itu imajinasi anak kecil yang terlalu banyak mendengar dongeng. Tiga hari kemudian, bumi berguncang hebat. Rumah-rumah runtuh, pohon-pohon tumbang, dan banyak warga terluka. Ayah Lestari terdiam, menatap putrinya dengan tatapan campuran antara ketakutan dan kekaguman yang tak terucap. Sejak saat itu, seluruh desa mengetahui bahwa Lestari memiliki kemampuan khusus. Namun, bukannya dihormati sebagai penyelamat, Lestari justru dijauhi dan dicemooh. Orang-orang mulai memanggilnya "Gadis Penyihir" atau "Anak Iblis." Mereka percaya bahwa kemampuan Lestari berasal dari kekuatan gelap, bahwa ia adalah perantara antara dunia manusia dan dunia roh yang seharusnya tidak diganggu. Setiap kali ia mencoba memperingatkan tentang bahaya yang akan datang—banjir bandang, longsor, wabah penyakit—kata-katanya ditolak dengan kasar. Kepala desa, Pak Darman, bahkan pernah mengusirnya dari balai desa saat ia mencoba memperingatkan tentang badai besar. "Mimpi kosong!" teriaknya. "Kau hanya ingin mencari perhatian, Nak!" Hanya ibunya, Bu Ratna, yang selalu berada di sisinya, melindungi dan mendukungnya dengan cinta yang tak tergoyahkan. "Ibu percaya padamu, Tari," bisiknya setiap malam sambil membelai rambut panjang putrinya. "Jangan biarkan omongan mereka menghancurkan semangatmu." Namun, bahkan cinta ibunya tidak cukup untuk mengisi kekosongan yang dirasakan Lestari. Kesepian menjadi teman setianya, dan hutan di tepi desa menjadi satu-satunya tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri, melatih kemampuannya tanpa takut dihakimi. Di bawah pohon beringin tua, saat bulan purnama bersinar terang, Lestari belajar bahwa visinya tidak selalu jelas. Kadang-kadang, ia hanya melihat fragmen-fragmen acak yang harus dirangkai sendiri seperti teka-teki yang rumit. Semakin sering ia menggunakan kemampuannya, semakin kuat pula visinya menjadi, namun semakin besar pula harga yang harus dibayar—migrain yang menyiksa, mimpi buruk yang tak berkesudahan, dan perasaan terisolasi yang semakin dalam. Hingga suatu malam, visi yang ia lihat berubah menjadi sesuatu yang mengerikan. Ia melihat dirinya sendiri, berdiri di tengah kerumunan orang yang marah, wajah-wajah penuh kebencian menatapnya, tangan-tangan mengacungkan batu dan kayu. Dan di tengah kekacauan itu, ia melihat seorang pria tampan dengan mata tajam seperti elang, tersenyum sinis. Visi itu berakhir seketika, meninggalkan Lestari terengah-engah dengan jantung berdebar kencang. Ia tidak tahu apa artinya, namun instingnya mengatakan bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi. BAGIAN I: BADAI YANG MEMBUKA MATA Peringatan Lestari tentang badai besar yang akan melanda desa akhirnya terbukti benar, namun dengan harga yang mahal. Ketika awan hitam berkumpul di langit dan angin mulai bertiup kencang membawa debu dan daun-daun kering, warga desa yang sebelumnya mencemoohnya kini berlarian mencari tempat yang lebih tinggi. Sungai di dekat desa meluap, mengancam menerjang pemukiman. Baru saat itulah orang-orang menyadari bahwa peringatan Lestari mungkin benar, namun sudah terlambat untuk mencegah kerusakan. Lestari, dengan hati yang hancur namun tekad yang membara, memimpin upaya penyelamatan. Dengan kemampuan indra keenamnya, ia bisa merasakan di mana ada orang yang membutuhkan bantuan, memandu kelompok penyelamat ke rumah-rumah yang terancam runtuh, menyelamatkan anak-anak dan orang tua yang tidak bisa bergerak cepat. Ketika fajar tiba dan badai akhirnya reda, desa mereka hancur lebur, namun berkat usaha Lestari, tidak ada korban jiwa. Namun, meskipun telah menyelamatkan banyak nyawa, sikap warga terhadapnya tidak berubah drastis. Beberapa orang mulai menghormatinya, tetapi banyak lainnya masih curiga, bahkan menyalahkannya—mereka percaya bahwa Lestari somehow menyebabkan badai itu, bukan mencegahnya. "Gadis itu m