Dreame - LOVE HEADMASTER
close button

Add Innovel to the desktop to enjoy best novels.

LOVE HEADMASTER
book-rating-imgREADING AGE 18+
TRI ANDAYANI
Romance
ABSTRACT
Di bawah menara lonceng sekuler yang angkuh, ada hukum yang tidak tertulis bahwa seorang Headmaster adalah pusat gravitasi. Bangunan bergaya neogotik itu berdiri megah di tengah kota, dengan dinding-dinding batu bata merah yang telah mengelupas dimakan usia namun tetap mempertahankan keangkuhannya, di mana waktu seolah diatur bukan oleh perputaran bumi melainkan oleh dentang lonceng perunggu yang menggantung di puncaknya. Setiap pukul tujuh pagi, suaranya membelah kabut, mengumpulkan jiwa-jiwa muda dan memaksa mereka tunduk pada satu nama, satu otoritas, dan satu kedisiplinan yang absolut. Dan di puncak hierarki itu, bersemayamlah sang Headmaster yang menjadi titah, ketertiban, dan penguasa absolut koridor sekolah yang dingin. Langkah kakinya di atas lantai marmer hitam selalu memiliki ritme yang konstan, bersih, berat, dan tanpa ragu, sehingga ketika jas gelapnya melintas, riuh rendah suara murid-murid di koridor akan langsung menyublim menjadi keheningan yang mencekam. Bagi sang Headmaster, emosi adalah kelemahan yang fatal, dan ia telah menghabiskan bertahun-tahun hidupnya untuk mengubur segala bentuk kerentanan manusiawi di bawah tumpukan dokumen akreditasi, piagam penghargaan, dan regulasi ketat, hingga wajahnya menjadi sebuah kanvas datar tanpa ekspresi yang seolah dipahat dari batu pualam yang tidak bisa disentuh oleh kesedihan maupun kegembiraan. Tak boleh ada riak emosi, tak boleh ada noda dalam reputasi, karena baginya sekolah ini adalah kuil suci moralitas dan ia adalah pendeta tertingginya yang tidak boleh cacat cela. Namun, aturan sekeras baja sekalipun akan meleleh ketika berhadapan dengan Ica. Ica bukanlah sekadar guru biasa, melainkan sebuah anomali yang mencolok di tengah barisan para pengajar yang berwajah kaku dengan pakaian seragam yang disetrika terlalu licin. Ia mengajar sastra, namun kehadirannya sendiri adalah sebuah puisi yang ditulis dengan tinta yang terlampau berani. Di balik langkah kakinya yang sengaja diperlambat ketika melewati ruang utama, selalu ada drama kecil yang tercipta karena Ica tidak berjalan untuk sekadar berpindah tempat, melainkan untuk menaklukkan lantai yang dipijaknya melalui ayunan halus pada jemarinya dan ritme malas namun mematikan yang terpancar dari caranya membawa buku-buku tebal di d**a. Lirikan matanya yang manja adalah jerat yang dipasang dengan sangat rapi, ditambah lagi dengan tawa renyah yang selalu menggantung genit di udara, sebuah tawa yang dituduh oleh guru-guru senior sebagai kelancangan namun dirindukan oleh dinding-dinding sepi sekolah ini karena terdengar seperti denting kaca yang pecah di tengah keheningan ibadah pagi. Di balik semua topeng keceriaan itu, ia adalah seorang janda yang menyimpan sejuta misteri, sebuah status yang melekat padanya seperti aroma parfum yang pekat, menarik sekaligus menjauhkan orang-orang di sekitarnya karena dunia luar sering kali terlalu malas untuk membaca bab-bab batinnya yang terluka dan lebih memilih melihat permukaan yang berkilau. Bagi dunia luar, sikapnya yang lenjeh dan penuh pesona sensual dianggap sebagai bentuk kelancangan terhadap institusi yang suci ini, membuat mereka berbisik di belakang punggungnya dan mengutuk setiap tawa manis yang keluar dari bibirnya yang dipulas lipstik merah bata. Namun bagi sang Headmaster, setiap jengkal gerak-gerik Ica adalah simfoni yang meruntuhkan logikanya, membuat pria yang biasanya mampu mendeteksi kesalahan sekecil apa pun mendadak kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih setiap kali bayangan Ica tertangkap oleh sudut matanya, karena logika besi yang ia pelihara puluhan tahun patah begitu saja ketika dihadapkan pada cara Ica membetulkan sehelai rambut yang jatuh di pelipisnya. Ini bukan sekadar romansa biasa di antara ruang guru, melainkan permainan petak umpet antara otoritas yang kaku dan godaan yang ranum di tempat di mana gosip menyebar lebih cepat daripada wabah flu. Hubungan antara seorang Headmaster dan seorang guru seni bahasa adalah sebuah perjudian tingkat tinggi, di mana setiap pertemuan di lorong dan setiap serah terima dokumen di meja administrasi berubah menjadi medan perang tak kasat mata yang penuh dengan ranjau darat emosi. Mereka berkomunikasi dalam bahasa yang tidak dipahami oleh orang lain, seperti dehaman pendek dari Headmaster saat melewati kelas Ica sebagai tanda bahwa ia menyadari kehadiran wanita itu, atau selembar memo dengan tulisan tangan Ica yang meliuk-liuk puitis di sudut laporan mingguan sebagai umpan yang sengaja dijatuhkan untuk menguji sejauh mana sang penguasa bisa bertahan. Ketika sore akhirnya datang dan bel pulang terakhir berbunyi, gedung tua itu berubah menjadi labirin yang sunyi seiring meredanya suara mesin tik dari ruang tata usaha, menyisakan ketegangan yang mencapai puncaknya di dalam kantor Headmaster yang luas dan dikelilingi rak buku mahoni tua. Di antara tumpukan silabus, aroma kopi yang mengepul dari cangkir porselen putih, dan pendar lampu kota yang mengintip dari balik jendela kantor, dua jiwa yang terluka.