Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Add Innovel to the desktop to enjoy best novels.
Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Your cookies settings
Strictly cookie settingsAlways Active
Berbagi Ranjang Dengan Adikku Sendiri
READING AGE 18+
Fara Adriana
Romance
ABSTRACT
"Aku lelah bersandiwara, Mas. Aku tidak mau anak kita nanti lahir tanpa status yang jelas."
Malam itu, dunia Arini runtuh menjadi serpihan tak berbentuk. Di balik celah tirai paviliun rumahnya sendiri, dia menyaksikan akhir dari kewarasannya. Rendra, suami yang dipujanya, pria tenang dan penuh perhatian yang telah dia temani merangkak dari bawah, sedang mendekap mesra wanita lain.
Yang membuat jantung Arini seolah berhenti berdetak bukanlah fakta bahwa suaminya berselingkuh. Melainkan sosok wanita yang sedang mengandung anak Rendra itu adalah Nabila—adik kandung yang dia besarkan dengan penuh kasih sayang layaknya anak sendiri sejak orang tua mereka tiada.
Mereka tidak hanya mengkhianati pernikahannya. Di atas ranjang terkutuk itu, Rendra dan Nabila sedang menyusun rencana keji untuk merampok seluruh harta warisan dan mendepak Arini setelah semua aset berpindah tangan.
Sakit? Luar biasa. Hancur? Jangan ditanya.
Namun, alih-alih menangis dan melabrak egois, Arini menghapus air matanya dengan kasar. Dia memilih kembali ke rumah utama, memasang topeng sebagai istri yang manis dan kakak yang naif. Dia membiarkan Rendra tetap mengecup keningnya setiap pagi. Dia membiarkan Nabila tersenyum manja meminta fasilitas mewah darinya.
Arini membiarkan mereka merasa di atas angin, tanpa tahu bahwa setiap senyuman manis Arini di meja makan adalah hitung mundur menuju liang lahat karier dan masa depan mereka.
Saat Rendra mulai bergerak kasar untuk menyingkirkannya, Arini melangkah keluar dari bayangan. Kali ini, dia tidak sendiri. Dia berdiri di samping Algara Dirgantara, penguasa tertinggi di dunia bisnis sekaligus atasan absolut Rendra. Pria dingin yang jauh lebih kaya, lebih berkuasa, dan siap membantu Arini membakar hidup dua orang pengkhianat itu hingga menjadi abu.
“Silakan ambil sisa ampas pria itu, Dek. Karena saat aku selesai dengan permainanku, suamimu tidak akan punya apa-apa lagi tersisa—bahkan harga dirinya sendiri.”