Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Add Innovel to the desktop to enjoy best novels.
Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Your cookies settings
Strictly cookie settingsAlways Active
Petualangan Para Penerus Aelion (Para Pejuang Cahaya)
READING AGE 18+
@AldyParanoiA
Romance
ABSTRACT
BAB I – Jejak Pertama Sang Penjaga
Angin lembah Rhyllen pagi itu membawa aroma embun dan bisikan yang nyaris tak terdengar—seakan dunia sendiri sedang menahan napas. Tiga sosok berdiri di depan reruntuhan Menara Elyndra, tempat Aelion terakhir tampak sebelum menghilang dari pandangan mereka.
Di tengah mereka, sebuah buku berlapis kulit hitam biru berdenyut lembut di tangan Lioda—hadiah terakhir Aelion sebelum berangkat ke tempat yang hanya ia sendiri yang tahu.
Eryndor menggenggam tongkat peninggalan Aelion, ujungnya berkilat seperti bara bintang kecil.
Lumiel mengenakan cincin perak pucat yang menyatu dengan kulit jarinya, memancarkan aura hangat yang hampir seperti bisikan seseorang yang mereka semua rindukan… meski mereka tak mengerti mengapa.
Dan Lioda… ia menatap buku itu.
Buku yang tidak dapat dibuka kecuali oleh kehendaknya dunia.
“Apa kau yakin… kita harus memulai hari ini?” tanya Lumiel pelan.
Eryndor menarik napas panjang. “Aelion sudah mempercayakan ini pada kita. Jika kita menunggu lebih lama, jejaknya akan semakin hilang.”
Lioda menunduk, menyentuh permukaan buku itu. Seketika, tinta-tinta dari halaman terdalam merayap ke permukaan kulit buku dan sebuah kalimat muncul:
“Jangan takut, Lioda. Dunia menunggu langkah pertama kalian.”
—Aelion.
Lioda terlonjak kecil. “Dia… dia mendengarkan.”
Tapi sebelum mereka sempat bereaksi, sesosok remaja muncul dari bayang-bayang reruntuhan. Tingginya hampir menyamai Eryndor, namun gerakannya ringan seperti angin. Rambut hitam keperakan, mata tajam berwarna keemasan—ciri khas para Asunga Halsa, kaum yang dikenal karena keberanian dan sumpah ksatria mereka.
Ia menunduk hormat.
“Namaku Ravenn Asunga,” katanya. Suaranya dalam namun sopan. “Aku datang membawa pesan dari wilayah timur. Ada gerakan aneh di perbatasan… dan aku diminta bergabung dengan kalian.”
Lumiel menatapnya. Ada sesuatu pada sorot mata pemuda itu—kekuatan, kejujuran… dan kekaguman yang ia sembunyikan dengan buruk.
Ravenn tersenyum samar padanya.
“Tentu… jika kalian menerima kehadiranku.”
Eryndor mengangguk tegas. “Jika Aelion mengirim ‘tanda’, maka kita tidak menolak.”
Namun sebelum langkah pertama mereka diambil, buku di tangan Lioda kembali bergetar.
Tulisan baru muncul, lebih dingin… lebih lembut… lebih anggun.
“Awasi langit malam. Cahaya tidak selalu berasal dari bintang.”
—L.
Lumiel menahan napas.
Hanya dia yang mengenali gaya tulisan itu.
Hanya dia yang merasakan hangat yang sangat familiar menyentuh dadanya.
Lunaris.
Tapi ia tidak mengatakan apa-apa.
Tidak sekarang.
Karena tugas mereka baru saja dimulai.
Dan takdir mereka… baru membuka pintu pertamanya.
📜 BAB 2 — ANAK MUNGIL YANG TERBELAH DARI CAHAYA
(Bagian 1 dari 3)
Angin pagi menyisir perlahan punggungan pegunungan Irhalei, meninggalkan jejak dingin yang lembut seperti nafas dewa yang ragu. Langit kala itu masih muda, dan bumi pun masih menyimpan aroma kesedihan, sebab dunia belum pulih benar dari perang antara cahaya dan kehampaan—perang terakhir yang mengakhiri era Aelion dan Lunaris.
Di sebuah lembah sunyi tempat embun menetap paling lama, sebuah gemuruh halus terdengar. Pendar kecil biru–perak terbentuk, seolah hendak menjadi bunga yang tidak pernah dikenal oleh para botanist dunia mana pun. Di tengah pendar itu, sesosok bayi mungil berbaring tanpa tangis… hanya bernafas.
Dan dari jauh, Aelion berlari menembus hutan.
Ia tahu… ia merasakan… ia mendengar retakan jiwa yang tidak seharusnya terjadi.
Asal Usul Jiwa yang Terbelah
Semuanya bermula dari keputusan paling berani sekaligus paling naif yang pernah dilakukan Aelion:
mencoba menghidupkan kembali Lunaris dengan 1000 mantra Elyrion.
Mantra terakhir—mantra keseribu—hampir berhasil.
Hampir.
Saat cahaya Lunaris mencoba memasuki dunia kembali, kekuatan kegelapan Coventien yang tersisa menyerang celah itu. Serpihan jiwa Lunaris terbelah:
Satu bagian jatuh ke dunia, menjadi bayi mungil yang berpendar lembut—Lumiel.
Satu bagian tersangkut di dimensi lain, menjadi “Lunaris Astral”, entitas yang sadar… dan merindukan dunia.
Aelion tiba lebih dulu sebelum pendar cahaya itu padam.
Ia mendekat pelan, lututnya jatuh ke tanah.
“Elyrion’tha… nalamel turyen…” (Cahaya kecil… kau lahir dari keajaiban takdir.)
Terjemahan itu meluncur tanpa suara dari bibirnya.
Bayi itu menatap Aelion dengan mata bening yang belum mengenal bahasa, tapi seakan mengenal jiwanya. Tangan kecilnya terangkat… menyentuh jari Aelion.
Dan saat itulah Aelion menangis untuk pertama kalinya setelah ribuan tahun.
---
Masa Kecil Lumiel
Lumiel tumbuh dengan keturunan Aelion.
Ia tidak seperti bayi biasa.
Kadang ia tertawa pada hal-hal yang tidak terlihat.
Kadang ia mengoceh dalam bahasa yang tidak dipahami siapa pun.
Kadang ia mengeluarkan cahaya dari rambutnya ketika tidur.
Namun ia manis.
Ia lembut.
Ia penuh rasa ingin tahu.
Ia berjalan terlambat, bicara terlambat… tetapi memandangi langit terlalu sering.
Seakan ada sesuatu—atau seseorang—yang dipanggilnya.
Para elder keluarga pewaris