Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Add Innovel to the desktop to enjoy best novels.
Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Your cookies settings
Strictly cookie settingsAlways Active
Istri Pilihan Papa Untuk Anak-anak
READING AGE 18+
Wa Yanti
Romance
ABSTRACT
Daren adalah seorang pria sukses yang dikenal dingin dan sulit didekati. Setelah kehilangan istrinya, ia memilih menutup diri dari dunia, hanya fokus pada pekerjaannya dan kedua anaknya, Hero dan Lili. Baginya, cinta hanyalah sesuatu yang telah berakhir di masa lalu.
Sementara itu, Talia adalah wanita muda yang cantik dan mandiri. Ia baru kembali dari luar negeri setelah menyelesaikan studinya. Di balik penampilannya yang elegan dan percaya diri, Talia menyimpan luka dari hubungan masa lalu yang menghancurkan kepercayaannya terhadap cinta.
Pertemuan pertama mereka terjadi secara tidak menyenangkan di bandara. Sebuah kesalahpahaman membuat Daren langsung menilai Talia sebagai wanita sombong dan tidak tahu diri. Sebaliknya, Talia menganggap Daren sebagai pria dingin yang arogan. Kesan buruk itu tertanam kuat di benak keduanya.
Namun takdir berkata lain. Melalui keputusan keluarga, Daren dan Talia dijodohkan. Meski sama-sama ragu, mereka akhirnya menerima pernikahan tersebut dengan alasan masing-masing. Pernikahan itu dimulai tanpa cinta—hanya sebuah kesepakatan yang dipenuhi keterpaksaan.
Setelah menikah, kehidupan mereka berjalan dingin dan kaku. Daren tetap menjaga jarak, memperlakukan Talia seperti orang asing di rumahnya sendiri. Ia menolak membuka hati, bahkan enggan menyentuh istrinya. Sementara itu, Talia berusaha bertahan. Ia mencoba menjalankan perannya dengan baik meski sering merasa tersisih dan tidak diinginkan.
Di tengah hubungan yang hambar itu, Talia mulai mendekati Hero dan Lili. Dengan kesabaran dan ketulusan, ia perlahan mengisi kekosongan yang selama ini dirasakan kedua anak itu. Kehadirannya membawa kehangatan baru dalam rumah yang sebelumnya terasa hampa.
Tanpa disadari, Daren mulai memperhatikan perubahan kecil tersebut. Ia melihat sisi lain Talia—sosok yang lembut, peduli, dan jauh dari bayangannya selama ini. Sedikit demi sedikit, dinding yang ia bangun mulai retak.
Namun perjalanan mereka tidak mudah. Berbagai konflik mulai muncul. Kesalahpahaman baru, bayang-bayang masa lalu Talia, serta trauma Daren terhadap kepergian istrinya menjadi penghalang besar. Perasaan yang mulai tumbuh justru diuji oleh keadaan yang semakin rumit.
Ketegangan mencapai puncaknya ketika sebuah masalah besar hampir menghancurkan hubungan mereka. Talia mulai lelah bertahan dalam hubungan yang terasa sepihak, sementara Daren dihadapkan pada kenyataan bahwa ia bisa kehilangan seseorang yang tanpa sadar telah menjadi berarti baginya.
Di titik itulah Daren akhirnya menyadari perasaannya. Ia mengakui bahwa penilaiannya selama ini salah. Talia bukan wanita yang ia kira. Lebih dari itu, Talia telah menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Dengan tekad yang baru, Daren mulai berubah. Ia berusaha memperbaiki semuanya—membuka hati, menunjukkan perhatian, dan memperjuangkan hubungan mereka.
Perlahan, Talia melihat ketulusan itu. Luka dan jarak yang dulu ada mulai memudar, digantikan oleh kepercayaan dan perasaan yang tumbuh semakin kuat.
Apa yang awalnya hanya sebuah pernikahan tanpa cinta, kini berubah menjadi kisah tentang dua hati yang saling menemukan. Bersama Hero dan Lili, mereka akhirnya membangun keluarga yang utuh—bukan karena keterpaksaan, tetapi karena cinta yang tumbuh dengan sendirinya.